DXPedition

DXPedition

DX-Pedition adalah kegiatan amatir radio yang direncanakan, dan beroperasi (mengudara) diluar stasiun rumah (QTH) dimana Izin Amatir Radio (IAR) nya terdaftar. Kegiatan ini bisa di lakukan sendiri atau berkelompok. Sering di kenal juga dengan Portable Operation. Banyak sekali manfaat dan tujuan dari operasi amatir radio ini. Mulai dari yang serius semacam ekspedisi eksplorasi oleh amatir radio untuk menyediakan komunikasi jarak jauh dengan tujuan mendapatkan kontak dengan negara-negara baru, sampai sekedar mengisi waktu berlibur pribadi atau keluarga, silaturahim club/group amatir radio. Ajang latihan dan pembinaan amatir radio dalam persiapan komunikasi darurat kebencanaan. Latihan persiapan pemasangan radio dan antena sampai cara komunikasi dan mengendalikan pile-ups.

Apapun tujuannya saya hanya akan membahas tentang IAR dan/atau Callsign (Izin/Tanda Panggil) yang di pakai seorang amatir radio di Indonesia saat beroperasi di luar/jauh dari stasiun rumahnya (Alamat dimana IAR terdaftar).

Sebenarnya sampai tulisan ini saya buat tidak ada undang undang yang masih relevan berlaku maupun peraturan yang secara jelas mengatur bagaimana kita Amatir Radio Indonesia seharusnya memancar di luar alamat callsign kita terdaftar. Selama ini kita hanya berasumsi berdasarkan kebiasaan yang berlaku di dunia International & pada Operating Procedure yang berlaku untuk Amatir Radio secara global.

Namun ada 1 regulasi yang perlu kita cermati, dimana secara implisit mengatur cara penyebutan callsign saat kita memancar di stasiun amatir radio lain (Numpang stasiun)

Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2018. Tentang Amatir Radio dan Radio Antar Penduduk. BAB II Tentang Kegiatan Amatir Radio. Pasal 9 ayat 1c yang berbunyi,

“Stasiun Radio Amatir dapat di gunakan oleh amatir radio lainnya dengan ketentuan : menggunakan tanda Panggilan (Callsign) milik Amatir Radio yang menggunakan, dan menyebutkan Portable pada Tanda Panggilan (Callsign), milik Amatir Radio yang stasiun Radio Amatirnya digunakan”

Ini artinya kita tidak boleh asal transmit di stasiun amatir radio milik orang lain tanpa menyebut callsign yang punya stasiun dengan tambahan kata, “Portable” di antara kedua Callsign.

Contoh, “This is YC5YC Portable YC5RMS, Your report is 5/9 Over”

Pertanyaannya bagaimana kalau kita transmit pakai radio dan perangkat pelengkap milik sendiri tapi jauh atau di luar alamat IAR kita terdaftar? Sabar ya…

Baca juga : Panduan persiapan sebelum iBOTA 

Dulu pernah ada aturan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor : KM 49 Tahun 2002 Tentang Pedoman Kegiatan Amatir Radio, pada pasal 53 berbunyi,

Setiap Stasiun Radio Amatir yang beroperasi di suatu lokasi lain di luar lokasi Stasiun Radio
tetap dalam pemancaran nama panggilannya, harus menambahkan keterangan yang
menyatakan di mana atau dalam kegiatan apa stasiun itu dioperasikan, sebagai berikut :
a. Di lokasi wilayah Amatir Radio lain ditambahkan isyarat “/Kode Wilayah Amatir Radio lain”;
b. Stasiun bergerak dengan menggunakan stasiun jinjing ditambahkan isyarat “/P (Portable)”;
c. Mengadakan kegiatan stasiun radio bergerak ditambahkan isyarat “/M (Mobile)”;
d. Nama panggilan untuk stasiun pengulang (Repeater) harus ditambahkan isyarat “/R
(Repeater)”;
e. Nama panggilan untuk rambu radio (Radio Beacon) harus ditambahkan isyarat “/B (Radio
Beacon)”.

Tetapi Kepmen ini sudah tidak berlaku karena di cabut bersamaan dengan keluarnya Permenkominfo No 33 Tahun 2009

Dan ORARI pernah mengeluarkan Pokok Pokok Tata Cara Berkomunikasi melalui Keputusan Ketua Umum Nomor : KEP-101/OP/KU/91 Pada salah satu catatan cara bergabung dalam satu komunikasi disebutkan,

“Apabila mengudara dari tempat diluar domisili stasiun, maka harus dijelaskan
apakah anda sedang land/portable/stroke wilkom lain.
Misalnya : YB0XXX Land Mobile 2 (two) Semarang
YB0XXX Stroke 1 (one) Bogor YB0XXX/1″

Sekarang saya ajak sahabat semua jalan² keluar negeri untuk mendapatkan perbandingan. Di Eropa karena batas negaranya tidak terlalu berjauhan dan berada di daratan yang sama, seperti Jerman dengan Belanda yang berbatas langsung dengan Belgia.

Oleh karena itu negara negara di eropa jika mau memancar diluar negeri hanya perlu memiliki CEPT License. Ini semacam IAR dengan perjanjian khusus antar negara yang tergabung dalam CEPT. Pemegang Izin CEPT hanya perlu menambahkan prefix negara tujuan di depan/dibelakang callsign mereka. Non CEPT License tentu perlu izin sebelum mereka boleh memancar. CEPT License holder juga boleh mengoperasikan Home Callsign mereka di luar alamat terdaftar tanpa /P. Brazil, negara ini lebih ribet lagi, ada 3 type license di Brazil

1. Fixed Home Station,
2. Fixed station luar negeri, dan,
3. Mobile station.

Setiap license punya muatan berbeda, artinya di Brazil jgn coba² masang radio di mobil trus seenaknya memancar dengan home callsign/M, urus izin dulu. Dulu ketiga jenis callsign ini dibedakan meskipun orang nya sama, tapi sekarang sudah bisa 1 callsign. Seperti punya teman saya seorang amatir radio Brazil Gustavo – PR8KW bermuatan jenis 1 dan 3.

Berbeda dengan Malaysia semua di atur dengan sangat jelas dalam Guidelines Amateur Radio Service 2012.

Tentang Installation procedure ayat a)iii menjelaskan bahwa

Amateur Radio Portable Station – Defined as a station that is operated away from the registered address in the Amateur Station Apparatus Assignment (ASSA) for certain duration of time.

Dalam Guidelines ini jelas sekali bahwa Malaysia membedakan antara Base Station, Mobile Station, Portable Station, dan Earth Station. Namun penggunaan callsign di Malaysia saat operating diatur dalam Guidelines on the Allocation of Callsign yang lebih banyak berpedoman ke Ethics and Operating Procedures for the Radio Amateur by John Devoldere, ON4UN, and Mark Demeuleneere, ON4WW dan dokumen ini di terima oleh  IARU Administrative Council sebagai representasi pandangan mereka tentang Ethics and Operating Procedures for the Radio Amateur.

Negara yang serius dalam mengatur suffix untuk kegiatan di luar Home Station sepanjang pengetahuan saya adalah Inggris. Di dalam UK Amateur Radio License Term di jelaskan secara eksplisit kapan kita menggunakan Portable (Callsign/P) dan kapan menggunakan Mobile (Callsign/M) sebagai berikut kutipan dari

“Note to the license” :

(d) When operating at locations other than the Main Station Address, it is recommended that
the following suffixes be used:

I. If the Licensee operates the Radio Equipment at an Alternative Address, the
Licensee may use the suffix “/A” with the Callsign;
II. If the Licensee operates the Radio Equipment at a Temporary Location, the Licensee
may use the suffix “/P” with the Callsign;
III. If the Licensee operates the Radio Equipment from a Mobile location, the Licensee
may use the suffix “/M” with the Callsign;

“Catatan untuk lisensi” :

(d) Saat beroperasi di lokasi selain Alamat Stasiun Utama, disarankan agar:
akhiran berikut digunakan:

I. Jika Penerima Lisensi mengoperasikan Peralatan Radio di Alamat Alternatif, maka
Penerima Lisensi dapat menggunakan akhiran “/A” dengan Callsign;
II. Jika Penerima Lisensi mengoperasikan Peralatan Radio di Lokasi Sementara, Penerima Lisensi
boleh menggunakan akhiran “/P” dengan Callsign;
III. Jika Penerima Lisensi mengoperasikan Peralatan Radio dari lokasi Bergerak, Penerima Lisensi
boleh menggunakan akhiran “/M” dengan Callsign;

Note ini juga menjelaskan defenisi Portable & Mobile sehingga pemegang license jelas kapan harus menggunakan /M atau /P pada callsign. Selengkapnya di sini

Sekarang pertanyaannya, Bagaimana klo Amatir Radio Indonesia seharusnya klo mau DX-Pedition?

YC5YC/P

Saya berasumsi berdasarkan Kepmen 49 tahun 2002 walaupun sudah dicabut, sebaiknya saat expedisi di Call Area masing-masing kita menggunakan Callsign/P untuk menambah keterangan kita sedang tidak bekerja di Home base. Cara penyebutan Callsign  berikut dengan benar adalah YC5YC/P (Wai si faiv wai si strok/slesh Pi) Jangan lupa ini penting untuk menyebut stroke atau slash karena misalnya saya menyebut tanpa slash/stroke maka bisa jadi station DX akan berpikir Callsign saya adalah YC5YCP karena dianggap salah mengeja phonetic alphabet, Nah kacau kan..? Hal ini juga sesuai panduan pada Ethics-and-Procedure-for-Radio-Amateur BAB II Ayat 8.1 tentang How do you call a CQ. Mari biasakan untuk bicara sesuai panduan resmi amatir radio dan regulasi yang ada di negara kita atau dunia amatir radio secara global.

YC5YC/2

Ada juga yang membiasakan menggunakan Callsign/Call Area untuk di jadikan callsign ekspedisi mereka, misal saat saya travelling dan mengoperasikan radio di Jogjakarta, berarti callsign saya menjadi YC5YC/2, meskipun panduan resmi yang di keluarkan ORARI melalui Keputusan Ketua Umum dengan Nomor : KEP-101/OP/KU/91 sudah jadul, kebiasaan ini juga di praktekan di beberapa negara seperti Malaysia dan Jepang. Silahkan saja bagi yang mau membiasakan hal ini. Saya lebih sering menggunakan Callsign/P karena beberapa alasan yang sudah saya sampaikan diatas di tambah manajemen Logbook ekspedisi saya akan jauh lebih mudah, tapi seru juga kayanya klo kita bisa punya confirmed QSO dengan Full Call Area dari 0 – 9 ya? Teman teman Amatir Radio Indonesia bagaimana? 

YC5YC/QRP

Satu hal lagi sebelum saya tutup untuk melengkapi artikel ini beberapa waktu lalu saya melihat tulisan di internet dan percakapan di social media soal penggunaan suffix tambahan Callsign/QRP.  Ada beberapa amatir radio yang membenarkan hal ini, Di Indonesia memang tidak di atur soal ini, tapi menggunakan /QRP adalah ilegal di banyak negara, salah satunya Belgia. Informasi QRP bukanlah bagian dari Callsign, jadi jangan menambahkan /QRP walaupan kita sedang bekerja secara QRP atau Low power transmission. Informasi QRP bisa saja di sampaikan dalam QSO agar partner kita terinformasi kita sedang bekerja low power yang mungkin akan di terima kecil atau lemah sehingga partner bicara kita bisa berusaha pointing antenna dan memberikan prioritas kepada kita, secara operating procedure yang benar kita wajib mendahulukan station yang sedang bekerja secara QRP.

Semoga tulisan singkat yang saya susun dan revisi berkali kali ini bisa bermanfaat bagi kita semua untuk lebih meningkatkan kualitas pengetahuan diri sebagai seorang amatir radio, bukan untuk saling menyalahkan sesama Amatir Radio yang berbeda pendapat. Tetap jaga kesehatan dan patuhi protokol di masa pandemi Covid-19. 73

Baca juga : Panduan Singkat QRV – BOTA Activator

2 Comments

  1. Terima kasih ilmunya Pak Dave YC5YC, salam kenal,, tetap bersemangat inovasinya. De YG4SAP WAZIR NURI Lam-Teng.

  2. Pingback:Indonesian Beaches On The Air - Amateur Radio & DXPedition

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *